31.361 Kasus AIDS di Bali, Dominasi Diderita Pria Sebanyak 20 Ribu, Denpasar Kasus Terbanyak

Pj. Gubernur Bali, yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Provinsi Bali, I Dewa Gede Mahendra Putra, menghadiri Puncak Peringatan Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember 2024 di area timur Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Bajra Sandhi, Renon, Denpasar. Foto ist
Pj. Gubernur Bali, yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Provinsi Bali, I Dewa Gede Mahendra Putra, menghadiri Puncak Peringatan Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember 2024 di area timur Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Bajra Sandhi, Renon, Denpasar. Foto ist

SERANUSA.COM,DENPASAR-Ternyata kasus AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) di Bali cukup tinggi.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Bali, total ada 31.361 kasus HIV AIDS. Dominasi kasus ini diderita pria. Dan penyebarannya paling banyak di Kota Denpasar Bali

Sebagai informasi, berdasarkan rilis Pemprov Bali dijelaskan data kumulatif yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Provinsi Bali sejak 1987 hingga September 2024 mencatat 31.361 kasus, terdiri atas 19.589 kasus HIV dan 11.772 kasus AIDS.

Berdasarkan jenis kelamin, perempuan tercatat sebanyak 11.317 kasus dan laki-laki 20.044 kasus. Untuk usia, temuan terbesar berada pada kelompok usia 20–29 tahun (11.401 kasus), diikuti usia 30–39 tahun (10.578 kasus), dan usia 40–49 tahun (5.074 kasus).

Lima kabupaten/kota dengan kasus terbanyak adalah Denpasar (16.216 kasus), Badung (4.562 kasus), Buleleng (3.863 kasus), Gianyar (2.478 kasus) dan Tabanan (1.392 kasus).

Pada awal Desember 2024, Pj. Gubernur Bali, yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Provinsi Bali, I Dewa Gede Mahendra Putra, menghadiri Puncak Peringatan Hari AIDS Sedunia di area timur Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Bajra Sandhi, Renon, Denpasar.

Dalam sambutannya, Pj. Gubernur Bali menyampaikan bahwa upaya penanggulangan AIDS membutuhkan lingkungan yang kondusif agar pelaksanaannya dapat berjalan harmonis dan produktif.

Sikap empati dan simpati terhadap ODHIV perlu ditunjukkan secara tulus agar mereka merasa diterima, lebih kooperatif dalam berinteraksi sosial, serta bebas dari rasa putus asa, stigma, dan diskriminasi.

 Hal ini sejalan dengan tema Hari AIDS Sedunia 2024, “Hak Setara untuk Semua, Bersama Kita Bisa,” yang menegaskan pentingnya pendekatan inklusif dalam pemenuhan hak-hak individu, termasuk akses layanan kesehatan tanpa stigma dan diskriminasi.

“Implikasi dari sikap empati ini akan mendorong ODHIV menjadi agen pencegahan, bukan sebagai agen penularan seperti yang dikhawatirkan banyak pihak,” imbuhnya.

Selain itu, berperilaku hidup sehat untuk menghindari infeksi HIV/AIDS adalah hal yang sangat penting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *