Depan Ribuan Mahasiswa UNUD, Koster Komit Hentikan Kelangkaan Nyoman-Ketut dengan Satu Keluarga Satu Sarjana

Depan Ribuan Mahasiswa UNUD, Koster Komit Hentikan Kelangkaan Nyoman-Ketut dengan Satu Keluarga Satu Sarjana.
Depan Ribuan Mahasiswa UNUD, Koster Komit Hentikan Kelangkaan Nyoman-Ketut dengan Satu Keluarga Satu Sarjana.

BADUNG,SERANUSA.COM– Gubernur Bali, Wayan Koster menjabarkan sejumlah program yang sedang dikerjakan dan dikebut di Bali, sebagai upaya untuk menurunkan angka stunting, angka pengangguran dan angka putus sekolah. 

Selain itu disampaikannya juga terkait langkanya anak-anak di Bali dengan nama Nyoman (anak ketiga) dan Ketut (anak keempat). 

Sehingga menimbulkan keprihatinan secara pribadi, mengingat kelangkaan tersebut akan mempengaruhi kelestarian budaya. 

Termasuk keberadaan anak-anak ke-3 dan ke-4. Hal ini disampaikannya saat tampil sebagai pembicara pada Diskusi Publik “Sang Pewahyu Rakyat” oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Udayana (UNUD) Tahun 2026, di Aula Auditorium Widya Sabha, Jimbaran, Badung, Rabu (18/2). Pada kesempatan ini, Gubernur Wayan Koster juga menjabarkan sejumlah permasalahan dan tantangan Bali ke depan. 

“Selain memberi manfaat positif bagi kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan masyarakat Bali, pembangunan Bali juga menimbulkan permasalahan terhadap Alam, Manusia, dan Kebudayaan Bali. 

Yakni alih fungsi lahan sawah terus meningkat, sampah semakin banyak, kerusakan ekosistem lingkungan, ancaman ketersediaan air bersih, dan kemacetan semakin tinggi serta terjadinya kesenjangan ekonomi wilayah Sarbagita dan luar Sarbagita. 

BACA JUGA

Gubernur Bali Wayan Koster Jabarkan Program 1 Keluarga 1 Sarjana pada Diskusi Publik “Sang Pewahyu Rakyat” di UNUD

Kapasitas infrastruktur dan transportasi publik Jauh dari memadai, kesempatan berusaha Masyarakat lokal Bali semakin berkurang, praktek pembelian aset dengan memakai nama masyarakat lokal Bali semakin tinggi, kasus narkoba, prostitusi, dan keamanan semakin meningkat, dan munculnya komunitas orang asing yang eksklusif, serta penodaan tempat-tempat suci semakin meningkat, serta rusaknya pakem dan keorisinilan budaya Bali”, jelas Gubernur Koster.

 Untuk mencegah defisit jumlah penduduk yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2050 nanti, maka pihaknya terus mensosialisasikan dan menuangkan aturan untuk menjaga pertumbuhan penduduk dengan menjaga populasi ketahanan penduduk yang nantinya bertugas menjaga keberlangsungan dan kelestarian budaya, dengan cara menghentikan program Keluarga Berencana (KB) 2 anak cukup dengan KB 4 anak atau lebih di Bali “yang penting bisa survive”, dengan cara memberikan insentif terhadap kelahiran anak ke-3 (Nyoman) dan ke-4 (Ketut) mulai tahun ini. Berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *