Kajian Terminal LNG Sidakarya Aman dan Bersih, Dibangun untuk Warga Bali bukan Segelintir Orang

Posisi Terminal LNG pantai Sidakarya dilihat dari Pulau Serangan. Foto SERANUSA.com
Posisi Terminal LNG pantai Sidakarya dilihat dari Pulau Serangan. Foto SERANUSA.com

DENPASAR,SERANUSA.COM-Kajian rencana pembangunan Terminal Liquefied Natural Gas (LNG) di pantai Sidakarya Denpasar Selatan Bali aman dan bersih.

Kehadiran Terminal LNG akan bermanfaat untuk semua masyarakat Bali bukan hanya untuk warga Sidakarya.

Karena LNG akan mensuport kebutuhan energi bersih pembangkit listrik dan kebutuhan gas rumah tangga. Warga bisa mendapat LNG dengan harga murah dibanding gas LPG.

“Kita sangat mendukung Terminal LNG karena selaras dengan Bali Mandiri Energi Bersih dan Berkelanjutan.


Apalagi untuk rumah tangga gas LPG bisa diganti dengan gas LNG.


Dari segi ekonomi harga LNG sangat murah,” kata Bendesa Adat Sidakarya Ketut Suka kepada awak media 27 Mei 2025 .

Ketut Suka menyampaikan pembangunan Terminal LNG tidak merusak lingkungan dan aman bagi warga sekitarnya.

“Kalau energi ini sudah diwujudkan, lingkungan kita akan bersih dan aman.


Gas LNG bisa disuplai ke PLN dengan harga lebih murah, ke masyarakat juga lebih murah juga. Jadi kita tidak memikirkan diri kita saja tapi untuk masyarakat umum se Bali kita pikirkan,” tegasnya.

Rencana pembangunan LNG Sidakarya juga telah dikaji oleh sejumlah pihak dan pakar. Hasilnya telah disosialisasikan kepada warga dan disebut tidak akan mengganggu dan merusak ekosistem alam.

“Kita sudah diajak berdiskusi dan sosialisasi ter’kait rencana ini sejak 2021. Sehingga 2022 kami sudah tahu rencana ini.


Rencananya terminal apung ada di tengah,
kurang lebih 500 meter, pipa itu ditanam di bawah laut sekitar 5 meter, kalau di mangrove ditanam pipa 15 meter di bawahnya,” jelasnya.

Menurut Suka, pada saat pengerjaan tidak akan menganggu aktifitas, karena alat bornya stay ditempat saja saat digging (penggalian).

Terkait jarak Terminal LNG dari bibir pantai Sidakarya, Ketut Suka menjelaskan telah dikaji tim Perusda mengandeng ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) dan tenaga ahli.

“Kajian pertama 500 meter, kemudian ada keberatan dari pihak tertentu sehingga
didorong ke laut ke tengah sampai 3 km ternyata di lokasi itu lebih berisiko.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *