JEMBRANA, SERANUSA.COM-Operasional Mesin RDF di TPA Peh Desa Kaliakah Kabupaten Jembrana dipertanyakan. Sumber setempat menyebut Mesinnya mulai Tersendat-sendat dan tak maksimal serta diperparah lagi dengan hasil pengolahan sampah di TPA Peh yang telah menjadi RDF (refused derived fuel) yang kini menumpak di lokasi.
Seperti dilansir dari Pos Bali.net, sumber setempat menyebut mesin RDF bantuan PT Wisesa Global Solusindo mulai beroperasi di TPA Peh sejak Juli 2024 sebulan setelah kedatangan mesin RDF diterima Bupati Nengah Tamba di TPA setempat.
“Mesin itu beroperasi di tumpukan sampah yang zona aktif. Setelah mesin beroperasional sempat mengirim RDF satu truk ke Pabrik Semen Gresik.
BACA JUGA
Maaf saya lupa berapa ton, karena datanya ada di kantor. Intinya sudah pernah kirim satu truk RDF ke Semen. Waktu itu pelepasan oleh pak Bupati Tamba,” katanya saat dihubungi, Senin (12/05/2025).
Setelah pengiriman pertama, mesin masih tetap beroperasi dan hasil RDFnya masih menumpuk di TPST karena belum terkirim.
“Apa mungkin belum capai target sehingga belum dikirim dan masih menumpuk, saya gak paham. Silakan menghubungi pak kadisnya,” katanya sembari mengingatkan tak ditulis nama dan identitasnya.
Mesinnya masih tetap beroperasi, namun tidak maksimal dan sering tersendat sendat. Karena setelah diayak, organiknya keluar lalu diambil plastiknya saja.
“Karena tidak sebanding keluaran dari mesin pemecah dan pres. Nanti ada bantuan dari BKK provinsi. Tersendat dan tidak keluar maksimal,” kata sumber.
Sekedar diketahui, kondisi mesin RDF di TPA Peh berbeda jauh dengan kondisi mesin RDF di TOSS Center Karangdadi Klungkung.
Mesin RDF di TOSS Center rekayasa teknologi anak negeri, dari Sidoarjo yang secara konsisten dan berkelanjutan sejak 2023 sampai dengan saat ini.
BACA JUGA







