DENPASAR, SERANUSA.COM-Kondisi ekonomi rentan atau kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan pendapatan hari ini. Kesempatan setiap keluarga untuk memperbaiki masa depannya selalu terbuka jika anggota keluarganya terdidik.
Karena ketika anak dari keluarga miskin tidak memiliki akses pendidikan tinggi, peluang untuk meningkatkan kondisi sosial ekonominya terbatas.
Sebaliknya, ketika akses pendidikan dibuka bagi anak-anak ekonomi keluarga rentan, peluang tersebut mulai tumbuh.
BACA JUGA
Karena itu, kebijakan pendidikan Koster dapat diposisikan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Pemerintah tidak memberikan janji bahwa setiap sarjana otomatis menjadi kaya. Namun pemerintah berusaha memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi tembok yang menghalangi anak-anak Bali untuk mengembangkan potensinya.
Dalam kerangka tersebut, satu sarjana dapat menjadi awal. Dua sarjana dapat menjadi penguatan SDM generasi penerus Bali.
Dan keluarga dengan beberapa anggota berpendidikan tinggi dapat menjadi fondasi baru bagi peningkatan kualitas kehidupan keluarga tersebut.
BACA JUGA
Tiga Kali Koster Pimpin Rakor Evaluasi, Kini Pelayanan Bandara Ngurah Rai Makin Prima
Pendidikan dan Masa Depan Bali
Gubernur Koster juga mengaitkan pendidikan dengan agenda besar pembangunan SDM Bali berkelanjutan.
Dalam berbagai kesempatan, pemerintah provinsi Bali menempatkan peningkatan kualitas manusia sebagai bagian penting dari pembangunan daerah berlandaskan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
Koster bahkan menegaskan bahwa pembangunan Bali pada hakikatnya adalah pembangunan manusia, dengan berbagai kebijakan diarahkan untuk menciptakan SDM Bali unggul. Program SKSS menjadi salah satu bentuk konkret dari gagasan tersebut.
Di sisi lain, Koster juga mendorong pendidikan dan peningkatan kualitas manusia berjalan bersama dengan upaya menjaga budaya, tradisi dan identitas lokal Bali.




