Setelah Restorasi Parahyangan Suci, Tahap Lanjutan Koster akan Bangun Infrastruktur Jalan Terintegrasi ke Pura Agung Besakih

Setelah Restorasi Parahyangan Suci, Tahap Lanjutan Koster akan Bangun Infrastruktur Jalan Terintegrasi ke Pura Agung Besakih.
Setelah Restorasi Parahyangan Suci, Tahap Lanjutan Koster akan Bangun Infrastruktur Jalan Terintegrasi ke Pura Agung Besakih.

KARANGASEM, SERANUSA.COM-Tak berhenti pada restorasi Parahyangan suci Pura Agung Besakih di Karangasem, karena Gubernur Koster dan pemerintah telah menyiapkan penataan infrastruktur strategis tahap ketiga, yakni penataan akses menuju Besakih dari arah Bangli, Singaraja, Karangasem, dan Klungkung.

Rencana ini mencakup, pengerjaan mulai 2027 yakni Perencanaan dan DED, tahun 2028: Pembangunan, 2029: Penyelesaian. Hal ini disampaikan Gubernur Bali dua periode Wayan Koster usai upacara Ngeruak/Mulang Dasar dan peletakan batu pertama (groundbreaking) Tahap II Paket Pekerjaan Penataan Area Parahyangan di Pura Banua, Besakih, Rendang, Karangasem, Jumat (1/5), bertepatan dengan Rahina Purnama di kawasan Pura Banua Besakih, Rendang.

Menurut Koster, dengan sistem ini, perjalanan umat dari rumah hingga ke pura diharapkan menjadi satu pengalaman spiritual yang utuh, tertata, aman, dan nyaman.

Gubernur Koster secara resmi telah memulai langkah besar yang telah lama dirancangnya yakni Restorasi Kawasan Parahyangan di Pura Agung Besakih, pusat spiritual umat Hindu Bali sekaligus titik kosmologi Pulau Dewata.

Momentum sakral itu ditandai dengan pelaksanaan upacara Ngeruak/Mulang Dasar dan peletakan batu pertama (groundbreaking) Tahap II Paket Pekerjaan Penataan Area Parahyangan di Pura Banua, Besakih, Rendang, Karangasem, Jumat (1/5), bertepatan dengan Rahina Purnama di kawasan Pura Banua Besakih, Rendang.

Di hadapan para undangan di Wantilan Kesari Warmadewa Besakih, Gubernur Wayan Koster menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan restorasi menyeluruh kawasan suci untuk mengembalikan bentuk, struktur, dan nilai asli Parahyangan sesuai pakem arsitektur Bali.

“Ini bukan pembangunan baru, bukan juga rehab biasa. Ini restorasi, membangun kembali dengan tetap mempertahankan keaslian,” tegasnya.

Dari Ketidakteraturan Menuju Harmoni Suci

Restorasi ini berangkat dari realitas lapangan yang selama puluhan tahun menunjukkan ketidakteraturan. Mulai dari Kori Candi Bentar, penyengker, hingga palinggih, ditemukan perbedaan mencolok dalam material, warna, motif, hingga ukuran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *