Jawab Tantangan Pertanian, Akademisi Undiksha Ciptakan Pupuk L2Nano dan Pestisida Nabati Berbahan Lokal

Jawab Tantangan Pertanian, Akademisi Undiksha Ciptakan Pupuk L2Nano dan Pestisida Nabati Berbahan Lokal.
Jawab Tantangan Pertanian, Akademisi Undiksha Ciptakan Pupuk L2Nano dan Pestisida Nabati Berbahan Lokal.

SINGARAJA, SERANUSA.COM – Dosen Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) kembali menegaskan peran strategisnya dalam pengembangan pertanian berkelanjutan melalui inovasi pupuk organik dan pestisida nabati berbasis bahan lokal.

Inovasi ini menjadi respons nyata terhadap tantangan besar sektor pertanian, seperti ketergantungan pada pupuk anorganik, tingginya biaya produksi, serta kerusakan lahan akibat penggunaan bahan kimia berlebihan.


Program ini dikembangkan dalam kegiatan Desa Binaan Undiksha di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, oleh tim akademisi lintas bidang yang terdiri atas Prof. Dr. rer.nat. I Wayan Karyasa, M.Sc., Prof. I Wayan Mudianta, S.Pd., M.Phil., Ph.D., Dr. rer.nat. I Gusti Ngurah Agung Suryaputra, S.T., M.Sc., I Gede Putu Banu Astawa, S.T., M.Ak., dan Qonita Awliya Hanif, M.Si., serta melibatkan sejumlah mahasiswa.


Dari program ini lahir pupuk organik inovatif bernama L2Nano, hasil riset berbasis arang sekam yang diformulasikan dengan teknologi nano.

BACA JUGA

Kepentingan Warga Diatas Segalanya, Gubernur Koster Fasilitasi Kesepakatan Buka Akses Jalan GWK

Pupuk ini dirancang untuk memperkuat batang tanaman, khususnya padi, agar tidak mudah rebah saat musim hujan, sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang mahal dan berisiko merusak tanah.


“L2Nano ini menggunakan prinsip pelepasan nutrisi secara lambat dan bertahap (slow release), sehingga nutrisi tidak langsung hilang, tetapi terserap optimal oleh tanaman. Ini sangat penting untuk efisiensi pemupukan dan keberlanjutan lahan,” ujar Ketua Tim Inovator, Prof. Dr. rer.nat. I Wayan Karyasa, M.Sc., saat diseminasi produk, Minggu (12/10/2025).


Tak hanya pupuk, tim Undiksha juga mengembangkan pestisida nabati berbahan dasar gulma yang umumnya dianggap hama pengganggu.

Melalui pendekatan inovatif, gulma diolah menjadi pestisida ramah lingkungan yang dikombinasikan dengan biostimulan, sehingga mampu membasmi hama sekaligus memperkuat daya tahan tanaman.


“Kami mengubah masalah menjadi solusi. Gulma yang biasanya merusak, kini justru menjadi pelindung tanaman. Ini contoh nyata pemanfaatan potensi lokal,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *