SINGARAJA, SERANUSA.COM — Kekecewaan terhadap dinamika politik internal kembali mencuat dari tubuh PDI Perjuangan di Kabupaten Buleleng.
Kali ini datang dari simpatisan senior partai berlambang banteng moncong putih, I Nyoman Arya Astawa, yang akrab disapa Mang Dauh. Ia secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap komposisi kepengurusan baru DPC PDI Perjuangan Buleleng, yang dinilainya tidak lagi mencerminkan semangat perjuangan dan ideologi partai.
Ditemui pada Selasa (21/10), Mang Dauh menegaskan bahwa sikap kritisnya lahir dari rasa cintanya terhadap PDI Perjuangan partai yang telah lama ia perjuangkan meski tanpa harus duduk di dalam struktur kepengurusan.
“Seperti saya sampaikan dari awal, karena rasa kecintaan saya terhadap PDI, saya ingin sejak dulu berjuang walaupun tidak duduk di struktural.
BACA JUGA
Niat saya hanya bagaimana partai ini bisa tumbuh besar dan tetap berpihak kepada kaum marjinal, sesuai marwah partai,” katanya.
Namun, dalam kepengurusan baru yang terbentuk saat ini, ia menilai terdapat sejumlah figur yang menempati posisi strategis tanpa memiliki rekam jejak perjuangan nyata di tubuh partai.
Menurutnya, hal ini perlu menjadi bahan evaluasi agar PDI Perjuangan di Buleleng kembali ke jalur perjuangan ideologis yang sesungguhnya.
“Menurut saya pribadi, ada beberapa orang yang menempati jabatan, tetapi dari jejak digital perjuangannya terhadap partai tidak terlihat. Itu menjadi pertentangan bagi saya. Jujur, saya tidak menghendaki jabatan, tapi ketika keadaan tidak sesuai dengan hati nurani, saya harus berbicara,” tegasnya.
Mang Dauh menambahkan, nilai-nilai dasar perjuangan PDI Perjuangan seperti keberpihakan kepada rakyat kecil dan semangat demokrasi gotong royong kini mulai tergerus oleh kepentingan kelompok tertentu.
“Saya menyuarakan keadilan, karena asas PDI Perjuangan kan berpihak kepada rakyat dan mengusung demokrasi, tapi nilai itu mulai tergerus,” ungkapnya.






