DENPASAR,SERANUSA.COM-Warga Pulau Serangan Denpasar Selatan awalnya mendukung pembangunan Terminal Liquefied Natural Gas (LNG) di pantai Sidakarya Denpasar Selatan.
Dukungan dan komitmen warga Serangan terdengar saat pertemuan harmonisasi antara warga Sidakarya, Intaran Sanur dan Pulau Serangan tahun 2022 lalu.
Kini, terdengar suara penolakan dari Pulau Serangan. Warga Serangan berbalik.
Bendesa Adat Sidakarya Ketut Suka
menyebut suara penolakan tersebut apakah murni dari desa dan masyarakat setempat atau justru ada kepentingan pihak tertentu yang bermain dibalik nama Pulau Serangan.
BACA JUGA
Kajian Terminal LNG Sidakarya Aman dan Bersih, Dibangun untuk Warga Bali bukan Segelintir Orang
Ketut Suka membeberkan sejumlah fakta yang menunjukkan dukungan warga Pulau Serangan terhadap rencana pembangunan terminal LNG Sidakarya.
“Kita tidak tahu kepentingan-kepentingan di sana, apa kah itu murni kepentingan desa atau masyarakat atau kepentingan tertentu,” kata Ketut Suka kepada awak media, Selasa 27 Mei 2025 di Pantai Sidakarya.
Suka membeberkan fakta yang menerangkan tiga tahun lalu, warga Serangan (Bendesa adat dan desa, red) memberikan dukungan. Namun saat ini berubah dan dirinya tak mengetahui pasti apa alasannya.
“Kalau dulu waktu kita harmonisasi dengan Serangan, Intaran, waktu itu semuanya sangat mendukung tapi sekarang kita gak tahu.
Waktu itu tahun 2022 semuanya sangat mendukung. Sekarang kami gak tahu karena pemimpin nya baru di disana,” jelasnya.
BACA JUGA
Ketut Suka mengatakan rencana pembangunan LNG di Sidakarya akan bermanfaat bagi seluruh masyarakat di Denpasar khususnya di Sidakarya dan sekitarnya. LNG tak berbahaya seperti gas LPG.
“LNG tidak seperti LPG, karena di video demonya itu, dia taruh LNG di gelas ada air di sulut dia hanya seperti lilin tidak seperti LPG yang meledak. Ikan masih bisa hidup dibawah nya maka kita masyarakat Sidakarya menilai hal yang bagus seperti ini, mengapa tidak didukung,” jelasnya.








