John Ketut Purna: Belajar dari Sawah hingga Sukses jadi Pengusaha Pariwisata

John Ketut Purna: Belajar dari Sawah hingga Sukses jadi Pengusaha Pariwisata. FOTO seranusa.com
John Ketut Purna: Belajar dari Sawah hingga Sukses jadi Pengusaha Pariwisata. FOTO seranusa.com

TABANAN,SERANUSA.COM- “Tidak berani mencoba berarti memilih gagal sejak awal. Tetapi ketika berani melangkah, selalu ada peluang untuk berhasil.” Kalimat sederhana ini menjadi prinsip hidup I Ketut Purna, pelaku pariwisata bali yang lebih dikenal sebagai John Ketut Purna.

Lahir di Tabanan, Bali tahun 1965, John Ketut Purna berasal dari keluarga petani nan sederhana. Masa kecilnya dihabiskan di tengah hamparan sawah. Di sinilah tempat ia belajar bahwa setiap hasil besar selalu berawal dari kerja keras, kesabaran, dan ketekunan.

Nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi setiap langkah perjalanan hidup John Purna. Banyak filosofi hidup yang ia petik dari bersawah yang kemudian mengantarkannya menjadi pengusaha sukses pariwisata Bali.

Meski dibesarkan di lingkungan pertanian, John Purna memilih keluar dari zona nyaman dan memberanikan diri merantau, belajar dan mencoba berbagai peluang kerja. Sebuah keputusan yang berat yang ia jalani demi mengubah arah hidupnya.

Perjalanan profesional John dimulai sebagai petani padi pada periode 1985–1990. Setiap hari ia mengolah sawah sejak matahari terbit hingga terbenam. Menanam, merawat, memastikan kecukupan air, hingga memanen padi menjadi rutinitas yang dijalani dengan penuh tanggung jawab.

BACA JUGA

Seribu Sensasi Wisata di Jatiluwih, Tak Hanya Sunset, Sunrise, Keindahan Subak dan Gunung Batukaru

Bagi John, bertani bukan sekadar pekerjaan, melainkan sekolah kehidupan. Dari sawah ia belajar arti disiplin, kesabaran, dan pentingnya menghargai proses. Melihat tanaman tumbuh subur memberikan kepuasan tersendiri sekaligus menyadarkannya bahwa setiap kerja keras akan selalu menghasilkan buah pada waktunya.

Membuka Wawasan di Kapal Pesiar

Pada tahun 1991–1992, John memulai babak baru dengan bekerja sebagai waiter di kapal pesiar Holland America Line.

Lingkungan kerja internasional menuntut profesionalisme tinggi. Jam kerja yang panjang, pelayanan prima, serta komunikasi dengan tamu dari berbagai negara membentuk karakter dan etos kerjanya. Pengalaman tersebut juga membuka wawasan baru tentang dunia pariwisata dan standar pelayanan kelas internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *