SERANUSA.COM,DENPASAR- Kisah Gubernur Bali 2018-2023 Dr. Ir. Wayan Koster, MM menantang Institut Pertanian Bogor (IPB) University akhirnya dibongkar rektor Prof. Dr. Arif Satria.
Tantangannya tak mudah.
IPB dan tim riset dari Universitas Udayana (Unud) Bali harus mampu melakukan penelitian untuk menghasilkan benih bunga gemitir (marigold) agar Bali tidak impor benih dari luar yang setiap tahun menelan anggaran sekitar Rp 30 Miliar.
Kemudian, Bali juga harus menghasilkan bunga gemitir yang tak hanya berwarna kuning. Bisa hasilkan bunga warna merah, putih dan lainnya.
BACA JUGA:
Koster juga meminta agar semua riset, penelitian dan pengembangan dilakukan secara organik. Karena Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2019 tentang sistem pertanian organik di Bali mengharuskan itu.
Prof. Dr. Ari Satria akhirnya buka-bukaan apa yang sesungguhnya terjadi sebelum program Koster ini berhasil dan dirasakan masyarakat Bali.
“Pak Koster menantang IPB University, bisa gak kita bikin benih sendiri? Dalam setahun kita riset dan bisa menghasilkan benih gemitir sendiri,” kata Arif Satria di Denpasar belum lama ini.
Kemudian, tak sampai disitu. Wayan Koster Kembali memberi tantangan lebih besar. Yakni harus hasilkan benih gemitir dari Bali yang tak hanya memiliki warna kuning. Melainkan warna merah, putih dan warna lainnya.
“Kemudian ditantang lagi oleh Pak Wayan Koster, warnanya jangan hanya kuning tapi merah putih juga,” kata Arif Satria.
Kini terobosan yang dilakukan Koster telah dirasakan masyarakat Bali. Karena sejak tahun 2019, Wayan Koster mulai menjalankan program ini.
BACA JUGA:
Pungutan Wisman ke Bali Tembus Rp 95 M, Wayan Koster Pantau Tiap Saat, Janji akan Perbaiki Sistem Pungutan
Tepatnya sejak 2 Agustus 2019, Wayan Koster menugaskan tim peneliti Prof. Dr. M. Syukur (IPB), Dr. Syarifah Iis Aisyah (IPB), Prof. Dr. Dewi Sukma (IPB), dan Prof. Dr. Dewa Suprapta (Unud), melakukan riset untuk menghasilkan benih gemitir. Akhirnya berhasil hadirkan benih bunga gemitir Bali Sudamala.








